web widgets

BENARKAH KITA BER IMAN



Berbagai masalah yang menimpa umat Islam , Baik dari segi sosial, politik, ekonomi dan segala macam sudut. Kita sebagai umat Islam lebih cenderung menyalahkan pihak lain di atas kelemahan kita sendiri. Bukan semua yang bersifat begini tetapi ada dalam kalangan umat Islam itu sendiri.   Saya coba berdiskusi tentang pendapat saya ini bersama teman2 fb tentang artikel ini. Jika ada salah dan khilaf boleh ditegur dengan cara yang bermusyawarah seperti yang diamalkan oleh junjungan besar kita Rasulullah S.A.W. Ini adalah sekadar pendapat pribadi saya,hasil daripada pengalaman hidup saya yang tidak seberapa ini.     Kita sambung kembali isu yang dibincangkan diatas tadi. Sebagai contoh dan ini tiada kaitan dengan siapapun, banyak umat Islam dewasa ini cukup prihatin dalam isu Palestina dan bencana yang melanda negri kita. Banyak juga pihak sama ada yang beragama Islam atau pun tidak yang telah membantu dari segi bantuan keuangan, pakaian, tenaga dan berbagai lagi apapun yang dirasakan perlu untuk membantu rakyat Palestin dsbnya yang menderita.   Banyak juga yang berdoa supaya rakyat Palestina dan yang lainnya agar diselamatkan dari pihak yang menindas ke atasnya dihancurkan daripada muka bumi ini dan kalau tidak salah, doa-doa ini juga sering berkumandang di tempat yang makbul doa seperti di Tanah Suci Makkah dan juga Madinah.   Persoalannya,   Adakah Yang Maha Mendengar tidak mendengar doa kita? Adakah Yang Maha Mengetahui tidak mengetahui hambaNYA sedang menderita? Adakah Yang Maha Mengasihani tidak mengasihani hambaNYa? Adakah Yang Maha Melihat tidak melihat kesengsaraan hambaNYA? Adakah Yang Maha Berkuasa tidak berkuasa ke atas kekuasaanNYA? Adakah Yang Maha Pencipta tidak dapat mengawal ciptaanNYA? Tidak sesekali tidak karena Allah itu Maha Sempurna tiada yang menandinginya.   Wahai orang yang Islam, kita coba lihat kembali dalam diri kita. Sememangnya nama kita Muhammad, nama kita Ahmad, nama kita Abu Bakar, nama kita Umar, nama kita Utsman, nama kita ‘Ali, nama kita Khadijah, nama kita ‘Aisyah, nama kita Fatimah tetapi adakah kita benar-benar beriman?   Apa itu iman? Iman itu yakin. Bagaimanakah perasaan yakin itu?   Seseorang yang yakin kawannya seorang yang amanah akan menceritakan rahsianya tanpa sedikit kuatir bahwa kawannya itu akan menceritakan rahasia tersebut kepada pihak lain. Inilah yakin.. Tiada keraguan.   Di mulut yakin yang Allah itu Maha Melihat, tetapi masih melakukan dosa bersunyi diri. Di mulut yakin bahwa Allah itu Maha Mendengar tetapi mulut masih menggunjing kelemahan dan aib orang lain. Di mulut yakin bahwa Allah itu Maha Berkuasa tetapi masih merasakan diri sendiri yang berkuasa dengan meninggalkan sholat. Bagi yang tidak meninggalkan sholat, coba ingat balik sholat fardhu yang kita lakukan tadi, sempurnakah? Adakah menepati ciri-ciri sholat yang khusyuk?   Puasa, bagi yang berpuasa, sempurnakah puasa kita secara batinnya? Pada zahirnya kita berpuasa,tapi batinnya? Zakat dan haji, ini yang fardhu bagi yang mampu, jangankan lkagi perkara yang sunnah. Banyak lagi kalau ingin dijabarkan akan kelemahan sebagai KITA UMAT ISLAM. Lihat saja Rukun Islam kita yang lima. Sejauh mana tahap keyakinan terhadap Allah S.W.T? Sejauh manakah keimanan kita terhadap Allah S.W.T? Hal ini berlaku kepada umat Islam seluruh dunia. Umat akhir zaman. . Itukah jawaban kita?   Kita ibarat buih-buih di lautan. Banyak tetapi tidak bertahan lama. Orang yang lemah imannya akan terus mengikut arus. Orang yang sederhana imannya dapat menahan arus. Orang yang kuat imannya dapat melawan arus. Kita bagaimana? Mungkin secara ikrar dan perbuatan menunjukkan kita beriman. Perkataan yang dituturkan oleh kita menampakkan seolah- olah kita orang yang beriman. Perbuatan kita melakukan solat, puasa, zakat,tulisan-tulisan kita di buku-buku atau blog-blog menunjukkan kita orang yang beriman walaupun kita tidak menyatakannya. Tapi di manakah hati kita? Bukankah iman itu dicetuskan oleh hati, diikrarkan dengan lidah dan dibuktikan dengan perbuatan? Ketiga-tiganya mesti disalaraskan. Hati, lidah dan perbuatan. Hati kita belum yakin dengan ucapan keimanan yang kita ucapkan. Hati kita belum yakin dengan perbuatan keimanan yang kita lakukan.   BENARKAH KE KITA BERIMAN? Saya  bukanlah seseorang yang kuat agamanya. Cuma saya ingin DISKUSIKAN Hati kita punya pendapat yang kerdil ini. Kiranya dan baiknya kita Saling mendoakan untuk kesejahteraan iman kita dan umat Islam seluruh dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BLOG SAHABATKU B*C



HADITS SHAHIH
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَنْحَنِى بَعْضُنَا لِبَعْضٍ قَالَ « لاَ ». قُلْنَا أَيُعَانِقُ بَعْضُنَا بَعْضًا قَالَ لاَ وَلَكِنْ تَصَافَحُوا
Dari Anas bin Malik, Kami bertanya kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, apakah sebagian kami boleh membungkukkan badan kepada orang yang dia temui?”. Rasulullah bersabda, “Tidak boleh”. Kami bertanya lagi, “Apakah kami boleh berpelukan jika saling bertemu?”. Nabi bersabda, “Tidak boleh. Yang benar hendaknya kalian saling berjabat tangan” (HR Ibnu Majah no 3702 dan dinilai hasan oleh al Albani).

HITAM DI DAHI PERLU DI WASPADAI
SELAMAT ULANG TAHUN
14 SUMBER BEBERAPA MACAM PENYAKIT
DUA AYAT DI MALAM HARI
TAMBAHAN LAFAD SAYYIDINA
SHALAT YG PALING BERAT DI ANTARA 5 WAKTU
CARA SHALAT BAB BACAAN TASYAHUD AKHIR
LARANGAN MENCACI WAKTU/MASA
UNTUK PARA SUAMI
KESALAHAN KESALAHAN PADA SHALAT JUMA'T
DAHSYAT NYA SURAH AL-IKHLAS
TATA CARA BERDO'A SESUAI TUNTUNAN
PELIHARA JENGGOT ADALAH PERINTAH
BERBAGI CINTA DAN ILMU UNTUK KITA DAN SAHABAT
Terbentuknya Jagat Raya Menurut Pandangan Al-Quran