ambil madunya jangan pecahkan sarangnya
BC 28902010.
JAHUWOTI S.
perbedaan antara ilmu dan ma.rifat.
Ma’rifat adalah maqam kedekatan ( qurb) itu sendiri yakni maqam yang memiliki daya tarik dan yang memberi pengaruh pada kalbu, yang lantas berpengaruh pada seluruh aktivitas jasmani (jawarih). `Ilm (ilmu) tentang sesuatu adalah seperti “melihat api” sebagai contoh, sedangkan ma`rifat adalah “menghangatkan diri dengan api”. Menurut bahasa, ma`rifat adalah pengetahuan yang tidak ada lagi keraguan di dalamnya. Adapun menurut istilah yang sering dipakai menunjukkan ilmu pengetahuan tentang apa saja (nakirah). Menurut istilah Sufi, ma`rifat adalah pengetahuan yang tidak ada lagi keraguan, apabila yang berkaitan dengan objek pengetahuan itu adalah Dzat Allah swt. dan Sifat-sifat-Nya. Jika ditanya, `Apa yang disebut ma`rifat Dzat dan apa pula ma’rifat Sifat?” Maka dijawab bahwa ma’rifat Dzat adalah mengetahui bahwa sesungguhnya Allah swt. adalah Wujud Yang Esa, Tunggal, Dzat dan “sesuatu” Yang Mahaagung, Mandiri dengan Sendiri-Nya dan tidak satu pun yang menyerupai-Nya. Sedangkan ma’rifat Sifat adalah mengetahui sesungguhnya Allah swt. Maha Hidup, Maha Mengetahui, Mahakuasa, Maha Mendengar dan Maha Melihat, dan seluruh Sifat-sifat Keparipurnaan lainnya. Kalau ditanya, `Apa rahasia ma`ri fat?” Rahasia dan ruhnya adalah tauhid. Yaitu, jika anda telah menyucikan sifat- sifat Mahahidup, Ilm (Ilmu), Qudrah, Iradah, Sama ; Bashar dan Kalam Allah dari segala keserupaan dengan sifat- sifat makhluk [dengan penegasan bahwa tiada satu pun yang menyamai- Nya]. Lalu, apa tanda-tanda ma`rifat? Tanda- tandanya adalah hidupnya kalbu bersama Allah swt. Allah swt. mewahyukan kepada Nabi Dawud a.s., “Mengertikah engkau, apakah ma’rifat- Ku itu?” Dawud menjawab, “Tldak.” Allah berfirman, “Hidupnya kalbu dalam musyahadah kepada-Ku. “ Kalau ditanya, “Tahap atau maqam manakah yang dapat disahkan sebagai ma `rifat yang hakiki?” [Jawabnya] adalah tahap musyahadah ( penyaksian) dan ru’yat (melihat) dengan sirr qalbu. Hamba melihat untuk mencapai ma’rifat. Karena ma’ rifat yang hakiki ada dalam dimensi batin pada iradah, kemudian Allah swt. menghilangkan sebagian tirai (hijab), lantas kepada mereka diperlihatkan nur Dzat-Nya dan Sifat-sifat-Nya dari balik hijab itu agar mereka sampai pada ma’ rifat kepada Allah swt. Hijab itu tidak dibukakan seluruhnya, agar yang melihat-Nya tidak terbakar. Sang Sufi bersyair dengan ungkapan pencapaian pada tahap spiritual tertentu : Seandainya Aku tampak tanpa hijab Pastilah seluruh makhluk sempurna Namun hijab itu amat halus Agar merevitalisasi kalbu para hamba yang `asyiq. Ketahuilah, bahwa manifestasi (tajalli) keagungan melahirkan rasa takut ( khauf) dan keterpesonaan (haibah). Sedangkan manifestasi keelokan (al- Hasan) dan Keindahan (al-Jamal) melahirkan keasyikan. Sementara manifestasi Sifat-sifat Allah melahirkan mahabbah. Dan manifestasi Dzat meniscayakan lahirnya penegasan keesaan (tauhid). Sebagian ahli ma’rifat berkata, “Demi Allah, tidak seorang pun yang mencari dunia, selain orang itu dibutakan kalbunya oleh Allah, dan dibatalkan amalnya. Sesungguhnya Allah menciptakan dunia sebagai kegelapan, dan menjadikan matahari sebagai cahaya. Allah menjadikan kalbu juga gelap, lalu dijadikan ma’rifat sebagai cahayanya. Apabila awan telah tiba, cahaya matahari akan terhalang. Begitupun ketika kecintaan dunia tiba, cahaya ma’rifat akan terhalang dari kalbu.” Ada pula yang mengatakan, “Hakikat ma’rifat adalah cahaya yang dikaruniakan di dalam kalbu Mukmin, dan tiada yang lebih mulia dalam khazanah kecuali ma’rifat.” Sebagian Sufi berkata, “Matahari kalbu Sang `Arif lebih terang dan bercahaya dibandingkan matahari di siang hari. Karena matahari pada siang hari kemungkinan menjadi gelap karena gerhana, sedangkan matahari kalbu tiada pernah mengalami peristiwa gerhana (kusuf). Matahari siang tenggelam ketika malam, namun tidak demikian pada matahari kalbu.” Mereka mendendangkan syair: Matahari siang tenggelam di waktu senja matahari kalbu tiada pernah tenggelam Siapa yang mencintai Sang Kekasih `Kan terbang sayap rindunya menemui Kekasihnya. Dzun Nun berkata bahwa hakikat ma’ rifat adalah penglihatan al-Haq atas rahasia-rahasia relung kalbu melalui perantaraan (muwashalah) Kilatan- kilatan lembut (latha’if) cahaya- cahaya: Bagi orang `arifin, terdapat kalbu-kalbu yang diperlihatkan Cahaya Ilahi dengan rahasia di atas rahasia Yang terdapat dalam berbagai hijab Tuli dari makhluk, buta dari pandangan mereka Bisu dari berucap dalam klaim-klaim dusta. Sebagian di antara mereka ditanyai, “ Kapankah seorang hamba mengetahui bahwa dia telah mencapai ma’rifat yang hakiki?” Dijawab, “Tatkala dia mencapai tahapan tidak menemukan dalam kalbunya sedikit pun ruang bagi selain Tuhannya.” Sebagian Sufi ada pula yang berkata, “ Hakikat ma’rifat adalah musyahadah kepada Yang Haq tanpa perantara, tanpa bisa diungkapkan, tanpa ada keraguan (syubhah).” Seperti ketika Amirul-Mukminin Ali bin Abi Thalib r.a. ditanya, “Wahai Amirul-Mukminin, apakah yang anda sembah itu yang dapat anda lihat atau tidak dapat anda lihat?” “Bukan begitu, bahkan aku menyembah Yang aku lihat, bukan dengan penglihatan mata, tetapi penglihatan kalbu,” jawab Ali. Ja’far ash-Shadiq ditanya, “Apakah anda pernah melihat Allah swt.?” “Aku tidak menyembah Tuhan yang tidak bisa kulihati” Ditanyakan lagi, “ Bagaimana anda melihat-Nya, padahal Dia tidak dapat dilihat mata?” Ja’far menjawab, “Mata penglihatan fisik tidak bisa melihat-Nya, tetapi mata batin (al-qulub) dapat melihat-Nya melalui hakikat iman. Tidak diketahui melalui penginderaan dan tidak pula dianalogikan dengan manusia.” Sebagian `arifin ditanya seputar hakikat ma’rifat. Mereka berkata, “Menyucikan sirr (rahasia) kalbu dari segala kehendak ‘ dan meninggalkan kebiasaan sehari-hari, tentramnya kalbu kepada Allah swt. tanpa ada ganjalan (`alaqah), berhenti dari sikap berpaling dari Allah swt. dan menuju selain Allah swt. Mustahil, ma’rifat kepada substansi Dzat-Nya dan Sifat- sifat-Nya, dan tidak akan diketahui siapa Dia, kecuali melalui Dia sendiri, Yng Mahaluhur, Mahatinggi, serta Kemuliaan hanya kepada Diri-Nya saja.
Pohon Ma'rifat
Rasulullah Saw bersabda: “Aku datangi pintu surga di hari qiyamat, lalu aku dibukakan. Maka sang penjaga syurga bertanya, “Siapa anda?” Aku katakan, “Muhammad,”. Lalu dia berkata, “Demi dirimulah aku diperintahkan agar tidak membuka (pintu surga) bagi siapa pun sebelum dirimu…” Ahlul Ilmi Billah (para Ulama Billah) telah mengetahui bahwa surga adalah pintu kebajikan Ilahi yg abadi. Tidak akan dibuka kecuali dibuka oleh Kanjeng Nabi Muhammad saw, dan dialah sang pembuka bagi kebaikan dunia dan akhirat. Mengetahui akan perilakunya merupakan rahasia pengetahuan pada Allah Ta’ala. Siapa yg ingin dibukakan pintu- pintu kebaikan dunia dan akhirat, ia harus menggantung padanya. Karena disana tersembunyi rahasia ma’rifat. Hakekat ilmu ma’rifat Ilmu ma’rifat adalah ilmu tentang Allah Ta’ala. Yaitu Cahaya dari Cahaya-cahaya Yang Maha Agung, dan perilaku dari berbagai perilaku utama. Dgn pengetahuan ma’rifat itu Allah memuliakan hati para ulama’,lalu Allah merias dgn keindahanNya dan keagunganNya. Dgn ma’rifat pula, Allah mengistimewakan ahli kewalian dan pecintaNya. Dgn ma’rifat, Allah memuliakannya di atas seluruh ilmu manapun. Manusia, mayoritas alpa atas kemuliaan ma’rifat, bodoh atas kelembutan- kelembutan ma’rifat,lupa atas keagungan getarannya, apalagi mereka juga lupa atas makna- makna terdalamnya, yg tak akan ditemui kecuali oleh orang yg memiliki hati yg berserasi denganNya. Ilmu ma’rifat ini merupakan asas, dasar, dimana seluruh ilmu pengetahuan dibangun. Dengannya pula kebajikan dua rumah dunia dan akhirat tergapai, kemuliaan terengkuh. Dgn ilmu ma’rifat, aib-aib diri terkuak.Anugerah Ilahi dikenal, keagunganNya diketahui, begitu pula keparipurnaan KuasaNya. Dgn ilmu ma’rifat itu, rahasia hamba terbang dgn sayap-sayap ma’rifat, dalam kelembutan sutera Qudrat, berjalan menuju pangkal kemuliaan. Berwisata di taman Al- Quds. Maka seluruh ilmu ketika tidak berpadu dgn ma’rifat tidak akan pernah sempurna. Dan amal perbuatan tidak akan rusak kecuali jika ilmu ma’rifat itu sirna. Tak ada yg menghuni pengetahuan itu kecuali hati yg dipandang oleh Allah, dgn pandangan Kasih Sayang.Lalu Allah meneteskan hujan penghayatan / pemahaman yg dalam,lalu menabur aroma yaqin dan kecerdasan.Allah menjadikannya sebagai tempat akal dan firasat, menyucikannya dari kotoran kebodohan dan kealpaan, meneranginya dgn cahaya ilmu dan hikmah. Allah swt berfirman: Allah meninggikan derajat orang2 yg beriman dari kalian, dan orang2 yg diberi ilmu (tentang Allah). Setiap arif pastilah takut penuh rasa cinta dan bertaqwa menurut kadar pengetahuannya pada Allah ta’ala, karena firmanNya:“ Sesungguhnya yg takut penuh cinta pada Allah dari hamba- hambaNya adalah para Ulama ( billah)”. Dgn cahayaNya godaan syetan bisa dikenal, sekaligus bisa menjadi pertahanan atas tindak maksiat dan dosa, peringatan bagi bencana-bencana hasrat.Allah swt, berfirman: “Bukankah orang yg dilapangkan dadanya oleh Allah bagi Islam adalah orang yg berada dalam pancaran cahaya Tuhannya?” “Siapa pun yg Allah tidak menjadikan baginya cahaya, maka baginya tidak mendapatkan cahaya.” Dalam hadits dijelaskan, “ Sebagian ilmu ada yg seperti perbendaharaan terpendam, dimana tidak diketahui kecuali oleh ahlul ilmi (Ulama) Billah, dan tidak diingkari kecuali oleh kalangan yg terkena tipu daya. Ada seseorang datang kepada Nabi saw, lalu bertanya, “Amal apakah paling utama?” Nabi saw, menjawab, “Ma’rifatullah/ Mengetahui Allah.” Hamba-hamba utama Diriwayatkan bahwa Nabi Musa as, bermunajat, “Ya Tuhan, manakah hamba-hamba paling banyak kebajikannya dan paling tinggi derajatnya dihadapanMu?” Allah menjawab, “Yang paling mengetahuiKu…” Imam Ali bin Abi Thalib Karromallahu wajhah mengatakan, “Orang yg paling tahu Allah, adalah yg paling dahsyat pengagungannya, karena menghormati Laa Ilaaha Illallah…” Abu ad-Darda’ ra, menegaskan, “ Siapa yg bertambah ilmunya tentang Allah, akan bertambah rasa malunya…” Diriwayatkan bahwa Allah Ta’ala memberi wahyu kepada Nabi Dawud as, “Wahai Dawud, engkau tahu ilmu yg bermanfaat?” “Oh Tuhanku, apakah ilmu yg bermanfaat itu?” jawab Dawud. “Hendaknya engkau mengenal KebesaranKu, KeagunganKu, KetaktertandingiKu, dan Kesempurnaan KuasaKu atas segala sesuatu. Itulah yg membuatmu dekat padaKu. Dan Aku tidak menyilahkan orang yg bertemu denganKu dgn kebodohan…” jawab Allah Ta’ala. Muhammad bin al-Fadhl as- Samarqandy ra, ditanya, “Apakah yg disebut mengetahui Allah itu?” “Hendaknya anda melihat bahwa ketentuanNya pada makhluk itu pasti, segala mudharat, manfaat, kemuliaan dan kehinaan itu dariNya. Dan anda melihat diri anda hanya untuk Allah. Segala sesuatu ada di GenggamanNya. Jangan memilih pilihan dari dirimu, bukan pilihanNya, dan anda berbuat benar-benar hanya bagi ikhlas Allah.” jawab beliau. Hai anak-anakku sekalian…tekunlah dalam menggali ilmu rahasia. Anda harus membenci dunia, dan kenalilah kehormatan orang-orang saleh. Hukumi perkaramu untuk kematian.Allah Ta’ala berfirman: “Dan katakanlah, “Tuhanku, tambahilah diriku ilmu..” “Dan Allah memberikan ilmu padamu, pengetahuan yg belum pernah engkau tahu.” “Dan Kami telah memberikan pengajaran ilmu kepadanya dari Sisi Kami.” “Orang-orang yg berjuang tekun di dalam Kami, maka Kami akan memberikan petunjuk jalan-jalan kami…” Betapa banyak orang yg meriwayatkan hadits, tetapi dia bodoh terhadap Allah. Sesungguhnya ilmu ma’rifat itu merupakan anugerah Allah Ta’ala, diberikan olehNya kepada orang yg dipilih dari makhlukNya, dan dipilihnya untuk dekat denganNya. Dalam hadits disebutkan, “Ilmu itu ada dua: Ilmu ucapan, yaitu argumentasi Allah atas hamba- hambaNya. Dan ilmu hati, yaitu ilmu yg tinggi, dimana seorang hamba Allah tak pernah merasa takut dan cinta pada Allah, kecuali dgn ilmu itu.” Beliau nabi saw, juga bersabda: “Yang paling dalam rasa takut dan cintanya kepada Allah adalah yg paling mengenal Allah.” Derajat Ulama Sufyan At-Tsaury mengatakan: Ulama itu terbagi jadi tiga: 1. Orang alim yg tahu perkara Allah, tapi tidak tahu Allah. Itulah alim yg dusta, yg tidak layak baginya kecuali neraka! 2. Orang alim yg mengenal Allah, tapi tidak mengenal perkara Allah, itulah alim yg masih kurang. 3. Orang alim yg mengenal Allah dan mengenal perkara Allah, itulah yg disebut Ulama sempurna. Sebagaian orang arif ditanya, “Apa jalan ma’rifat pada Allah itu?” “Allah tidak dikenal dgn segala sesuatu. Tetapi segala sesuatu dikenal melalui Allah, sebagaimana Dzun Nuun al-Mishry ra, mengatakan, ‘Aku mengenal Allah melalui Allah, dan mengenal selain Allah melalui Cahaya Allah.” Jawabnya. Nabi Ibrahim as, bermunajat, “ Ilahi, jika bukan karena Engkau, bagaimana aku mengenal siapa DiriMu..” Hal senada juga disampaikan Rabiah al-Adawiyah, ketika bertanya kepada Dzun Nuun al- Mushry ra, “Bagaima engkau kenal Allah?” “Allah melimpahi rizki rasa malu padaku, dan memberikan pakaian muroqobah padaku. Ketika aku susah dgn musibah, aku mengingat kebesaran Allah, lalu aku sangat malu padaNya..”, jawab Dzun Nuun. Pohon Mari’fat Metafora Ma’rifat itu seperti pohon yg memiliki enam cabang. Akarnya kokoh di bumi yaqin dan pembenaran, dan cabang- cabangnya tegak dgn iman dan tauhid. Cabang pertama: Khauf (rasa takut) dan Raja’ (harapan pada anugerah-rahmatNya) yg disertai dgn cabang perenungan. Cabang kedua : berlaku benar dan serasi dgn kehendak Allah, yg disertai dgn cabang Ikhlas. Cabang ketiga : Khasysyah (takut penuh cinta) dan menangis, yg disertai dgn cabang Taqwa. Cabang keempat: Qana’ah ( menerima pemberian Allah) dan ridlo, yg disertai cabang Tawakkal. Cabang kelima : Pengagungan dan rasa malu yg disertai dgn cabang ketentraman. Cabang keenam : Istiqomah dan berselaras dgn Allah yg disertai dgn cabang cinta dan kasih. Setiap cabang dari masing-masing akan bercabang pula sampai tiada hingga dalam jumlah kebaikan, dalam tindakan benar dan perbuatan, kemesraan berdekat – dekat dgn Allah, kesunyian Qurbah, kebeningan waktu dan segala sepadan yg tak bisa disifati oleh siapa pun jua. Di setiap cabang yg ada akan berbuah berbagai macam, yg satu sama lainnya tidak sama, rasanya, yg di bawahnya ada cahaya- cahaya taufiqNya, yg mengalir dari sumber anugerah dan pertolonganNya. Dalam hal ini manusia berpaut-paut dalam derajat dan berbeda-beda dalam kondisi ruhani. Diantara mereka : 1. Ada yg mengambil cabangnya saja, tapi alpa dari akarnya, tertutup dari pohonnya dan tertirai dari rasa manis buahnya. 2. Ada yg hanya berpegang teguh pada cabangnya belaka. 3. Ada yg pula yg berpegang pada akar aslinya, dan meraih semuanya (pohon, cabang dan buah) tanpa sedikit pun menoleh pada semuanya, tetapi hanya memandang yg memilikinya, Sang Penciptanya. Siapa yg tak memiliki cahaya dalam lampu pertolongan Ilahi, walaupun telah mengumpulkan, mengkaji semua kitab dan hadits, kisah-kisah, maka tidak akan bertambah kecuali malah jauh dan lari dari Allah, sebagaimana keledai yg memikul buku-buku. Ada seseorang yg datang kepada Imam Ali Karromallahu Wajhah: “Ajari aku tentang ilmu-ilmu rahasia…”pintanya. “Apa yg kau perbuat perihal ilmu utama?” kata imam Ali. “Apakah pangkal utama ilmu?” orang itu balik bertanya. “Apakah kamu mengenal Tuhanmu?” Tanya beliau. “Ya..” jawabnya. “Apa yg sudah kau lakukan dalam menjalankan kewajibanNya?” “Masya Allah…” jawab orang itu. “Berangkatlah dan teguhkan dgn itu (hak dan kewajiban), jika kamu sudah kokoh benar, kamu baru datang kemari, kamu akan saya ajari ilmu-ilmu rahasia…” Jawab beliau. Ada yg mengatakan, “Perbedaan antara ilmu ma’rifat dan ilmu lainnya adalah seperti perbedaan antara hidup dan mati
JS:BC
memahami diri sendiri
Para Istri Rasulullah sallahu 'alaihi Wasallam berikut keterangan nya
Ini para Istri Rasulullah saw. Lihat keterangnnya disini ych.
***************************
¤¤¤¤¤ yang pertama ¤¤¤¤¤
Khadijah binta Khuwalid
***************************
¤¤¤¤¤ dan yang ke dua ¤¤¤¤
ZAINAB BINTI KHUZAIMAH
****************************
¤¤¤ dan ini yang ke tiga ¤¤¤
'Aisyah binti Abu Bakar
***************************
¤¤¤ berikut yg ke empat ¤¤¤
HAFSAH BINTI 'UMAR
***************************
¤¤¤¤ lalu yang ke lima ¤¤¤¤
JUWAIRIAH BINTI HARITS
***************************
¤¤¤ berikut yang ke enam ¤¤¤
MAIMUNAH BINTI HARITS
***************************
¤¤¤ berikut yang ke tujuh ¤¤¤
ISMARIAH ALQIBTIAH
**************************
¤¤¤ lalu yang ke delapan ¤¤¤
SAUDAH BINTI ZAM'AH
**************************
¤¤¤ lalu yang ke sembilan ¤¤¤
SOFIAH BINTI HUYAI
**************************
¤¤¤ lalu yang ke sepuluh ¤¤¤
UMMU HABIBAH BNT ABU SOFYAN
**************************
¤¤¤ lalu yang ke sebelas ¤¤¤
UM MU SA LA MAH
**************************
¤¤¤ yang ke dua belas ¤¤¤
ZAI NAB BINTI JAHSY
KHALIFA ARRASYIDIN
Abu Bakar Ashshiddiq tidk ada keterangan disini**#
######silahkan klik#####
UMAR AL-KHATTHAB
****####dan ini klik####*****
UTSMAN BIN AFFAN
****####dan ini klik####****
ALI BIN ABU THALIB
semoga bermamfaat bagi kita smua untuk mengetahui para pembela Islam jaman dahulu.
hukum zakat emas bagi wanita
اَم ْنِم
ِبِحاَص
ٍبَهَذ َو
َال ٍةَّضِف
َال
ْيِّدَؤُي
اَهَتاَكَز
َّالِإ اَذِإ
َناَك َمْوَي
ِةَماَيِقلا
ْتَحِّفُص
ُهَل
ُحِئاَفَص
ْنِم ٍراَن
َيِمْحُأَف
اَهْيَلَع
ْيِف ِراَن
َمَّنَهَج
ىَوْكُيَف
اَهِب
ُهُبْنَج
ُهُنْيِبَجَو
َهُرْهَظَو.
Siapa saja yang memiliki emas dan perak lalu tidak dikluarkan zakatnya maka pda hri Kiamat nanti akn dibntangkn baginya lempengn dri api lalu dipnaskn dalam neraka kemudian dahi-dahi mreka, lmbung dan pung gung mereka dibakar dengan-nya. (Al-Hadits). ( HR. Muslim, kitab Az-Zakah (987).) Hadits Abdullh bin Amr bin Al'Ash: ra Bahwa se orang wanita dtang kepada Rasulullah saw, wanita itu bersma putrinya yg menge nakan dua gelang emas yang bsar di tngannya, maka beliau bertanya kepadanya, َأ
َنْيِطْعُت
َةاَكَز
؟اَذَه
Apakah engkau mengeluarkan zakatnya? Wnita itu menjawb,“Tidak.” Beliau bersabda,َأ ِكُّرُسَي
ْنَأ
ِكَرِّوَسُي
ُهللا
اَمِهِب
َمْوَي
ِةَماَيِقلا
ِنْيَراَوِس
ْنِم ؟ٍراَن
Apakh engkau senang bila Allh mengenakan gelang padamu karena kedua gelang tersebut pada hari kiamat nanti dengan dua gelang yang terbuat dari api? Maka wnita itu pun lang sung melepaskn kedua gelang tersebut lalu menjatuhkannya kepad Nabi SAW sambil menga takan, Kedua gelang itu untuk Allh SWT dn RasulNya.( Diriwa yatkan oleh Abu Dawud, kitab Az-Zakah(1563)dan AnNasa'i, ktab A-Zakah (5/38) dengan isnad hasan.)”Hadits Ummu Salamah R.a, ia berkata,“Aku mengenakan gelang- gelang kaki yg terbuat dari emas, lalu aku berkata, Wahai Rasulullah, apakah ini termasuk harta sim panan?’ Beliau menjawab, اَم َغَلَب
ْنَأ
ىَّكَزُي
َيِّكُزَف
َسْيَلَف
ٍزْنَكِب.
Barng apa saja yang telah men capai nishab lalu dikeluarkan zakatnya maka tidak termasuk kanz (hrta simpanan).( Diriwa yatkAn oleh Abu Dawud, kitab Az- Zakah (1564) dan Ad-Daru Quthni sprti itu (2/105), disha hihkan oleh Al-Hakim (1/390).)Beliau tidak mengatakan,Tdk ada zakat pda prhiasn.Adapun riwayat yg mnyebutkan bhwa Nabi SAW mengatakan, Tidak ada zakat pada perhiasan. adlh hadits lemah, tidak boleh digu nakan untuk dipertentangkan dengan yang pokok dan tidak juga dngn hdits- hdits shahih. Hanya Allahlh pmbri petunjuk. ( Masa’il wa Fatawa fi Zakatil Huliy, Al-Lajnah Ad- Da’imah, hal. 20-22. )
BLOG SAHABATKU B*C
HADITS SHAHIH
HITAM DI DAHI PERLU DI WASPADAI
SELAMAT ULANG TAHUN
14 SUMBER BEBERAPA MACAM PENYAKIT
DUA AYAT DI MALAM HARI
TAMBAHAN LAFAD SAYYIDINA
SHALAT YG PALING BERAT DI ANTARA 5 WAKTU
CARA SHALAT BAB BACAAN TASYAHUD AKHIR
LARANGAN MENCACI WAKTU/MASA
UNTUK PARA SUAMI
KESALAHAN KESALAHAN PADA SHALAT JUMA'T
DAHSYAT NYA SURAH AL-IKHLAS
TATA CARA BERDO'A SESUAI TUNTUNAN
PELIHARA JENGGOT ADALAH PERINTAH
BERBAGI CINTA DAN ILMU UNTUK KITA DAN SAHABAT
Terbentuknya Jagat Raya Menurut Pandangan Al-Quran

